Waspadai Penyakit Sembelit

Waspadai Penyakit SembelitSekitar 80% orang pernah merasakan konstipasi, sembelit atau susah buang air besar.  Bila terjadi hanya sekali, konstipasi termasuk kategori normal.  Tetapi bila konstipasi berubah menjadi kronis dan berakibat fatal. Sebaiknya tidak mengabaikan gejala tidak normal yang menyertai konstipasi.
Pada kasus susah buang air besar buka kasus yang jarang.  Wanita lebih sering mengalami dibanding dengan pria.  Faktor hormonal, persarafan, aktivitas tubuh dan kondisi saluran pencernaan sendiri merupakan beberapa penyebab selain faktor makanan dan minuman atau obat – obatan yang dipakai.
Pada kasus sembelit melanda hampir semua negara maju.  Hidup dengan kurang bergerak, dikejar waktu dan beberapa faktor kejiwaan memiliki pengaruh terhadap pola buang air besar.  Oleh sebab itu, obat pencahar menjadi sama dengan obat batuk bagi masyarakat di negara maju.  Ketika jenis obat ini beredar sama bebasnya dengan kacang goreng dan terpaksa obat jenis ini harus dipakai hampir setiap hari.
Banyaknya obat pencahar yang beredar di pasaran justru mengandung bahan yang berbahaya dan perlu pertimbangan untuk dipilih karena memiliki efek samping terutama pada kandungan kolosin, podohilin dan yalap (efek samping dapat meningkat bila pemakaiannya dicampur dengan obat lain).
Tanpa penanganan yang serius, konstipasi atau sembelit dapat menjadi masalah kronis, tetapi bukan berarti masalah ini dapat diselesaikan hanya dengan minum obat pencahar.  Penderita sembelit sebaiknya tidak langsung mengkonsumsi obat pencahar saat terjadi masalah ini.
Sembelit dapat menyebabkan kanker usus.
Seringnya susah buang air besar, sering sakit perut atau sembelit sebaiknya anda waspada.  Karena gangguan yang anda alami bisa jadi merupakan salah satu bentuk gejala kanker usus besar atau kanker kolorektal.
Menurut dokter spesialis bedah kanker dari Jakarta menyatakan bahwa sebagian orang saat ini mengabaikan gejala sakit perut, susah buang air besar dan perubahan siklus buang air besar.  Gejala tersebut merupakan bagian dari tanda adanya penyakit kanker kolorektal.  Kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa kanker dapat dipicu oleh gejala yang dianggap remeh seperti cara diet yang salah yang dapat menyebabkan kebiasaan buang air besar dan sembelit.
Perubahan siklus buang air besar merupakan gejala yang perlu diwaspadai untuk mengantisipasi kanker kolorektal.  Perubahan tidak wajar atau siklusnya melebihi waktu transit yang perlu dicurigai sebagai gejala.  Waktu transit normal dibutuhkan makanan dari sejak masuk hingga keluar melalui anus tidak melebihi 48 hingga 72 jam.  Bila waktu melebihi angka tersebut, perlu diwaspadai.
Selain pada perubahan siklus buang air besar, ada tanda lain yang dapat di deteksi sebagai gejala kanker usus besar adalah ditemukannya darah pada kotoran saat buang air besar, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, rasa sakit di bagian perut atau bagian belakang, perut masih terasa penuh meskipun telah buang air besar dan tidak ada rasa puas dan terkadang dapat diraba adanya masa atau tonjolan pada perut.
Kanker kolorektal masuk pada empat besar dari 10 kanker yang paling banyak di derita.  Kanker kolorektal banyak menyerang di usia 55 – 64 tahun.  Tetapi saat ini cukup banyak di usia 35 – 44 yang menderita kanker usus besar dan rektum.  Rata – rata dari penderita yang telah berobat menjadi sulit diobati karena sudah dalam stadium lanjut.  Oleh karena itu, penting artinya untuk mengetahui gejala dari awal dan menjaga kesehatan termasuk menghindari gaya hidup yang dapat memicu resiko terjadinya kanker seperti stress, merokok, minum alkohol dan pola makan tidak sehat.