Alergi Hidung

Alergi HidungDefinisi
Menurut Von Pirquet, rhinitis alergi adalah peradangan yang disebabkan oleh suatu reaksi alergi pada pasien yang memiliki atopi yang sebelumnya sudah terpapar dengan allergen (zat yang menyebabkan timbulnya alergi) yang sama dan meliputi mekanisme pelepasan mediator kimia ketika terjadinya paparan ulangan dengan allergen yang serupa.
Menurut WHO ARIA, rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin dan keluarnya cairan dari hidung, rasa gatal dan tesumbat setelah mukosa hidung terpapar dengan allergen yang mekanismenya diperantarai oleh IgE
Gejala Klinis
Gejala yang khas adalah serangan bersin yang berulang-ulang pada pagi hari atau terdapat kontak langsung dengan debu.  Bersin merupakan mekanisme normal dari hidung untuk membersihkan diri dari benda asing. Bila bersin lebih dari lima kali dalam satu kali serangan dapat diduga gejala rhinitis alergi.  Gejala lainnya keluar ingus yang encer dan banyak, hidung tersumbat, mata gatal dan kadang disertai dengan keluarnya air mata.
Gejala yang tidak khas adalah
1. Bayangan gelap dibawah mata (allergic shiner)
2. Gerakan menggosok-gosokkan hidung pada anak-anak (allergic salute)
3. Timbulnya garis pada bagian depan hidung (allergic crease)
Pemeriksaan yang dapat dilakukan :
1. Pemeriksaan nasoendoskopi
2. Pemeriksaan sitologi hidung
3. Hitung eosinofil dalam darah tepi
4. Uji kulit allergen penyebab
Pengobatan
1. Terapi yang ideal adalah dengan menghindari kontak langsung penyebab allergen.
2. Pengobatan, penggunaan obat antihistamin H-1, obat yang sering dipakai sebagai pengobatan rhinitis alergi atau dengan mencampurkan obat dekongestan oral. Obat Kortikosteroid dipilih bila gejala utama pada sumbatan hidung akibat repon fase lambat tidak berhasil diatasi oleh obat lain.
3. Tindakan operasi dilakukan bila pengobatan diatas tidak berhasil.
4. Imunoterapi.
Epidemiologi
Di Amerika terdapat hampir sekitar 20% rata-rata angka kejadian pada penderita rhinitis alergi.
Etiologi / Patofisiologi
Rhinitis alergi adalah peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi tersebut terdiri dari dua fase yaitu :
1. Immediate Phase Allergic Reaction
Terjadi sejak kontak dengan allergen sampai satu jam setelahnya.
2. Late Phase Allergic Reaction
Reaksi yang terjadi pada dua hingga empat jam sampai dengan enam sampai delapan jam setelahnya sensitisasi dan dapat berlangsung hingga 24 jam
Cara masuk allergen dibagi menjadi empat, yaitu:
1. Alergen Inhalan,
Dapat masuk bersamaan dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur dan tungau
2. Alergen Ingestan,
Dapat masuk ke saluran cerna berupa makanan, misalnya telur, coklat, ikan, udang dan susu
3. Alergen Injektan,
Dapat masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya sengatan lebah atau penisilin.
4. Alergen Kontaktan,
Dapat masuk melalui kontak dengan kulit, misalnya kosmetik atau perhiasan.
Masuknya allergen ke dalam tubuh kita, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar:
1. Respon Primer,
Tahap ini, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik
2. Respon Sekunder,
Pada tahap kedua ini, reaksi yang terjadi spesifik yang dapat membangkitkan system humoral, system selular saja atau bisa membangkitkan keduanya, bila antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap kedua ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme system tersebut maka dilanjutkan ke respon tertier.
3. Respon Tertier ,
Tahap ini, reaksi imunologik yang tidak menguntungkan.